Pertemuan 25 "Menulis Puisi" Mengungkap Rasa Lewat Kata



Pada Rabu, 17 Juli 2024, pertemuan ke-25 dari Kelompok Belajar Menulis Nasional (KBMN) PGRI berlangsung dengan penuh antusiasme. Acara kali ini mengangkat tema "Menulis Puisi" dengan menghadirkan narasumber yang sangat kompeten di bidangnya, yaitu Dr. Hj. E. Hasanah, M.Pd, dan dipandu oleh moderator yang dinamis, Widya Arema. Seperti biasa, pertemuan ini dimulai dengan memperkenalkan narasumber melalui CV yang menggambarkan perjalanan dan kiprah narsum dalam dunia pendidikan dan kepenulisan.

Dr. Hj. E. Hasanah, M.Pd, merupakan seorang akademisi dan praktisi literasi yang telah berkecimpung di dunia pendidikan selama lebih dari dua dekade. Beliau dikenal luas atas kontribusinya dalam menulis berbagai artikel ilmiah dan karya sastra. Dengan berbagai penghargaan yang diraihnya, Dr. Hasanah tidak hanya menginspirasi melalui karya-karyanya, tetapi juga melalui dedikasinya dalam mendidik generasi muda.

Materi dimulai dengan membahas pengertian puisi dari berbagai sudut pandang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Dalam pengertian umum, puisi sering dianggap sebagai ekspresi emosi yang ditulis dengan gaya bahasa yang indah dan memikat.

Selanjutnya, Dr. Hasanah mengutip pendapat HB Yasin, seorang kritikus sastra terkemuka, yang menyatakan bahwa puisi adalah ungkapan perasaan yang paling dalam dari manusia yang disampaikan dengan bahasa yang singkat, padat, dan bermakna ganda. Puisi, menurut HB Yasin, adalah medium yang sempurna untuk menyalurkan perasaan dan pikiran yang kompleks dalam bentuk yang ringkas namun penuh makna.

Struktur Fisik dan Jenis-jenis Puisi

Dalam sesi ini, Dr. Hasanah menguraikan tentang struktur fisik puisi yang meliputi rima, majas, diksi, dan bentuk. Struktur ini merupakan elemen penting yang membedakan puisi dari bentuk tulisan lainnya. Rima  memberikan irama yang mengalir, diksi mencerminkan pilihan kata yang tepat dan bermakna, sedangkan bentuk tipografi mencakup susunan visual dari puisi tersebut.

Ciri-ciri Puisi Lama

Puisi lama memiliki ciri khas seperti terikat oleh aturan tertentu dalam hal jumlah baris, rima, dan ritme , tidak diketahui siapa penulisnya, disampaikan dari mulut ke mulut. Contoh puisi lama meliputi MAntra,  pantun, syair, talibun, dan gurindam. Masing-masing jenis puisi ini memiliki struktur yang khas dan aturan yang ketat. Misalnya, pantun terdiri dari empat baris dengan rima a-b-a-b, sementara syair biasanya terdiri dari empat baris dengan rima a-a-a-a.

Ciri-ciri Puisi Baru

Puisi baru, di sisi lain, lebih bebas dalam bentuk dan struktur. Tidak terikat oleh aturan-aturan yang ketat, puisi baru memungkinkan penyair untuk bereksperimen dengan berbagai bentuk dan gaya. Beberapa jenis puisi baru meliputi soneta, haiku, epigram, elegi, satire dan balada. Puisi-puisi ini menawarkan fleksibilitas dan ruang kreatif yang lebih luas bagi para penyair.

Menjelang akhir sesi, Dr. Hasanah memperkenalkan jenis puisi baru yang dikenal sebagai patidusa. Puisi patidusa adalah bentuk puisi yang terdiri dari empat baris dengan jumlah kata yang bervariasi, yaitu 4 kata, 3 kata, 2 kata, dan 1 kata. Atau bisa juga sebaliknya, dimulai dari 1 kata, 2 kata, 3 kata, dan 4 kata. Struktur ini memungkinkan penyair untuk mengembangkan tema dan suasana secara lebih mendalam dalam setiap baitnya.

Berikut adalah contoh puisi patidusa 

Senja di Dermaga

Mentari tenggelam di laut

Angin berhembus lembut

Menyentuh wajah

Tenang.


Jenis Puisi Bebas yang Sedang Digandrungi

Selain patidusa, Dr. Hasanah juga membahas beberapa jenis puisi bebas yang kini tengah digandrungi penulis, seperti puisi telelet, puisi akrostik, dan puisi 2.0. Meskipun ada yang terikat dengan aturan tertentu, jenis-jenis puisi ini memberikan kebebasan ekspresi yang lebih luas bagi para penulis.


Puisi Telelet

Puisi telelet memiliki struktur yang khas dengan tujuh larik dalam satu bait, mengikuti pola tiga, empat, lima, enam, lima, empat, tiga kata. Contohnya adalah sebagai berikut:


Pagi Ceria

Burung berkicau riang

Mentari tersenyum cerah ceria

Segelas teh hangat di meja makan

Hari dimulai dengan tawa riang ria

Bunga-bunga merekah indah tercipta

Warna-warni alam bercanda

Langit biru tenang.


Puisi Akrostik

Puisi akrostik adalah jenis puisi di mana huruf-huruf pertama dari setiap baris, ketika dibaca secara vertikal dari atas ke bawah, membentuk sebuah kata atau frasa. Contoh puisi akrostik dengan kata "CINTA":


Cahaya menyinari bumi

Indah dalam setiap langkah

Nyata dalam mimpi dan depan mata

Terukir dalam hati selamanya

Akan selalu ada cinta.

Pertemuan kali ini memberikan wawasan  tentang puisi, mulai dari pengertian dasar hingga berbagai jenis dan struktur puisi. Dr. Hj. E. Hasanah, M.Pd, dengan pengalamannya yang luas,  menjelaskan materi dengan banyak contoh. Sesi ini tidak hanya menambah pengetahuan peserta, tetapi juga memotivasi kami untuk terus berkarya dalam dunia puisi. Sebagai penutup, moderator Widya Arema mengajak peserta untuk terus berlatih menulis puisi.


"If I read a book and it makes my whole body so cold no fire can ever warm me, I know that is poetry."_Emily Dickinson_








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resume ke 18 Materi KBMN PGRI: Menulis Buku Dari Karya Ilmiah

Resume Pertemuan 24 KBMN PGRI ke-24 Menulis Biografi

Resume pertemuan ke-17 KBMN PGRI